PRAKTIK BAIK DI SD ISLAM TERPADU LUQMAN AL HAKIM SLEMAN: STRATEGI MEMAHAMI PESERTA DIDIK DENGAN DESIGN THINKING


Oleh: R. Alfian Rizkya Putri, S.Pd.,Gr

(Guru Inspriratif jenjang Sekolah Dasar Kemendikbud 2021)

Masa pandemi memberikan banyak perubahan dalam sistem pendidikan, selain itu juga mengakibatkan learning loss pada peserta didik. Learning loss merupakan hilangnya kesempatan belajar secara efektif bagi peserta didik di sekolah yang berakibat pada penurunan penguasaan kompetensi peserta didik yang dikarenakan kondisi pandemi Covid 19. Untuk mengurangi dampak learning loss, memasuki tahun ajaran 2021/2022 pemerintah mulai menggulirkan kebijakan baru dalam pendidikan, yaitu pertemuan tatap muka terbatas (PTMT). Kebijakan baru tersebut menjadikan peserta didik harus beradaptasi kembali dengan sistem pembelajaran yang baru. Kondisi yang berbeda tentu perlu adanya perlakuan yang berbeda. Perubahan ini tentu harus dihadapi oleh semua guru. Guru memiliki tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Agar tugas guru dapat dilaksanakan dengan baik guru harus mengetahui apa yang dibutuhkan dan diinginkan peserta didiknya. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami kebutuhan peserta didik adalah dengan mengimplementasikan design thinking.

            Design thinking atau berpikir desain adalah sebuah metode atau cara berpikir menyelesaikan permasalahan yang berorientasi pada manusia, kolaboratif, bersifat optimistik, dan eksperimental. Ada 5 tahapan yang dapat dilakukan saat mengimplementasikan design thinking yaitu empati, mendefinisikan, memunculkan ide, membuat prototipe, dan uji coba. Harapannya design thinking ini dapat membantu guru mengatasi learning loss yang.

Praktik baik yang dilakukan pada saat PTMT dalam mencegah learning loss menggunakan pendekatan design thiking adalah sebagai berikut:

  1. Perencanaan

a. Empati (emphatize)

Guru harus memahami kebutuhan peserta didik, maka kita perlu berempati terhadap peserta didik. Dengan mengetahui profil dan kebutuhannya, maka kita dapat memahami apa yang dibutuhkan dan apa yang ingin didapatkan oleh peserta didik. Dari berempati kepada peserta didik maka akan muncul permasalahan-permasalahan yang harus diselesaikan dan apa saja yang menjadi kebutuhan peserta didik.

Proses empati, dilakukan tidak hanya melalui pengamatan terhadap tingkah laku, proses belajar, dan hasil belajar saja tetapi juga dengan bertanya secara langsung kepada peserta didik tentang kendala saat belajar, harapan, dan hal-hal yang terkait proses pembelajaran. Selain itu, guru juga melakukan pendekatan dengan orang tua. Guru mencari tahu tentang bagaimana anak-anak belajar ketika di rumah, kendala, dan apa yang menjadi harapan para orang tua.

b. Mendefinisikan (Define)

Tahap define artinya, mendefinisikan apa permasalahan utama yang dihadapi peserta didik dan apa yang menjadi kebutuhan saat belajar lalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan solusi yang bisa diterapkan. Pada praktik yang dilakukan, berdasarkan tahap empati didapatkan permasalahan utama yang dialami peserta didik yaitu peserta didik ingin tetap semangat dalam belajar dan dapat dengan mudah memahami materi yang diajarkan meski dengan cara daring ataupun luring. Mereka ingin suasana belajar yang menyenangkan sesuai dengan apa yang menjadi minat mereka.

c. Memunculkan ide (Ideate)

Setelah menemukan permasalahan maka saya berusaha memunculkan ide. Guru mencari informasi dari berbagai sumber agar dapat mendapatkan ide yang bisa menjawab permasalahan peserta didik. Dari permasalahn tersebut Guru memperoleh ide “Bagaimana jika motivasi belajar tersebut dimunculkan dari dalam diri peserta didik dan didukung faktor dari luar peserta didik agar bagaimanapun kondisinya, mereka tidak kehilangan semangat belajar”.

d. Membuat prototipe (prototype)

Setelah mendapatkan ide, guru membuat prototipe atau desian dari ide tersebut. Ide pemecahan masalah tersebut dibagi menjadi 2, yaitu membuat desain motivasi belajar secara internal dan eksternal.

Desain motivasi internal disusun yaitu dengan membuat target belajar. Target belajar ini akan diisi oleh peserta didik dan orang tua. Tujuan dari target belajar ini adalah untuk mengingatkan peserta didik tentang capaian yang ingin diraih. Target belajar ini disusun dengan menyertakan:

  1. Target satu tahun kedepan
  2. Target semester ganjil dan semester genap
  3. Target setiap bulan
  4. Hal-hal yang harus dilakukan setiap hari
  5. Bantuan dari orang tua yang diharapkan
  6. Bantuan dari guru yang diharapkan
  7. Kata-kata motivasi

Desain motivasi eksternal yang saya susun yaitu dengan membuat analisis materi yang diajarkan menggunakan berbagai pendekatan atau model pembelajaran yang memberikan keleluasaan peserta didik untuk mengembangkan ide-ide dan kreativitasnya. Pembelajaran yang dilakukan memberikan peluang bagi peserta didik untuk mengekspresikan ide-ide yang mereka miliki. Contohnya pembelajaran berbasis proyek, berbasis masalah, diskusi kelompok, permainan, dan mengundang guru tamu baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Peserta didik diberi kesempatan untuk mengeksplor sebanyak-banyaknya pengetahuan sesuai dengan cara yang disukai. Dari sini, harapannya peserta didik juga dapat mengembangkan kemampuan literasi. Kemampuan literasi dapat dikembangkan dengan memberikan ruang kepada peserta didik untuk mencari tahu, menyusun, dan membangun konsep materi oleh peserta didik itu sendiri. Untuk mengembangkan kemampuan literasi, guru menyiapkan video pembelajaran yang dibuat sendiri sesuai kebutuhan kemudian disiapkan pada learning management system (LMS) sekolah, buku acuan pelajaran, dan referensi-referensi terkait lainnya. Peserta didik diberi kebebasan mengakses informasi dari berbagai media yang diminati.

e. Uji coba (test)

Sebelum digunakan, prototipe desain motivasi internal dan eksteral diujikan secara terbatas kepada guru ahli, guru BK, dan peserta didik itu sendiri. Dengan demikian prototipe akan mendapatkan masukan dan perbaikan sebelum digunakan. Prototipe yang dihasilkan dari proses ini adalah berupa lembar target dan perangkat pembelajaran.

  1. Pelaksanaan

Praktik baik untuk memberikan motivasi internal dilakukan di awal tahun pelajaran. Guru memberikan penjelasan terkait pentingnya menjaga semangat belajar dan fungsi dari target. Sebelum membuat target, guru memberikan arahan baik kepada peserta didik maupun kepada kedua orang tua. Lembar target diisi peserta didik bersama orang tua dan dipajang di area belajar. Tujuannya agar peserta didik dapat disiplin dalam menjaga motivasi belajarnya. Selain itu, peserta didik juga membuat daftar kegiatan yang harus dilakukan setiap hari. Hal ini bertujuan agar peserta didik bisa konsisten untuk mencapai tujuan jangka panjangnya.

Praktik baik untuk memberikan motivasi eksternal yaitu dengan pelaksanaan kegiatan belajar yang memberikan peluang kepada peserta didik untuk mencari tahu, menyusun, dan membangun konsep pengetahuannya sendiri. Salah satunya dengan kegiatan berbasis proyek.

Kegiatan ini dimulai dengan memberikan orientasi pengetahuan di awal tentang materi. Setelah itu, saya memberikan tantangan untuk diselesaikan. Pada tahap tantangan ini ada beberpa yang disepakati bersama, yaitu: tujuan yang ingin dicapai, waktu berakhirnya proyek, dan kriteria penilaian.

Proses kegiatan belajar mengajar (KBM) pada masa PTMT di SD Islam Terpadu Luqman Al Hakim Sleman dilakukan dengan blended learning. Selama menyelesaikan proyeknya, peserta didik diberi keleluasaan mencari informasi dari berbagai media baik digital maupun konvensional. Pada media digital pendampingan dan arahan dari guru dan orang tua harus berperan aktif. Pada waktu pengerjaan proyek berakhir, peserta didik membawa hasil proyek yang dibuat ke sekolah jika terjadwal PTMT dan menunjukkan via video konferensi jika tidak terjadwal PTMT. Semua anak diberi kesempatan untuk mempresentasikan proyeknya kepada teman-temannya baik yang datang ke sekolah maupun yang di rumah.

Pendekatan design thinking terus dilakukan oleh guru untuk menghadapi permasalahan-permasalahan yang terjadi. Solusi untuk permasalahan yang dilakukan terkadang akan menimbulkan masalah baru. Sebagai guru harus adaptif dan responsif terhadap permasalahan peserta didik.

Dari kegiatan yang sudah dilakukan terlihat beberapa dampak positif yang dialami oleh peserta didik. Contohnya, peserta didik menjadi lebih sadar akan tanggung jawabnya terhadap belajar. Dengan target belajar yang dibuat, mereka lebih mudah memahami apa yang menjadi kewajiban yang harus dilakukan sehari-hari. Hal ini berdampak pada motivasi dan antusiasme dalam belajar.

Kegiatan belajar yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan minat peserta didik pun dapat mendorong motivasi belajar. Hal ini terlihat ketika peserta didik mengkuti kegiatan belajar sesuai arahan dan menyelesaikannya tepat waktu. Selain itu, peserta didik menjadi lebih antusias dalam membangun konsep pengetahuannya. Hal ini akan menambah kemampuan literasi peserta didik karena mereka akan mencari informasi dari berbagai sumber dan mengaplikasikan dalam proses belajar setiap harinya.

Berita

Hari Guru Nasional

November 29, 2022

Selamat Hari Guru untuk semua pahlawan tanpa tanda jasa 😍

Selengkapnya

Special Day

November 29, 2022

Hari Kamis, tanggal 24 November telah dilaksanakan acara Special Day yang mencakup Panen Karya dan Market Day. Pada Panen Karya […]

Selengkapnya

Berita Lainnya

Pengumuman

Hasil Observasi Penitipan Calon Peserta Didik Baru Gel II TA 2020/2021

November 6, 2019

Assalamu’alaikum Wr.Wb. Segala puji bagi Allah SWT, semoga naungan, ridho dan ampunan-Nya senantiasa membersamai kita. Sholawat dan salam kepada Nabi […]

Selengkapnya

Hasil Observasi Penitipan Kursi calon Peserta Didik Baru 2020/2021

October 2, 2019

Assalamu’alaikum Wr.Wb. Segala puji bagi Allah SWT, semoga naungan, ridho dan ampunan-Nya senantiasa membersamai kita. Sholawat dan salam kepada Nabi […]

Selengkapnya

Pengumuman Lainnya