Arinil Janah, S.Pd. SD
Artikel
18 September 2025
Memasuki tahun ajaran baru, akan saya ulas beberapa hal terkait adab dalam menuntut ilmu. Hal ini penting untuk diketahui anak-anak semua agar memudahkan dalam proses belajar. Bagi yang sudah mengetahui semoga menjadi pengingat kembali.
Ilmu memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, bahkan ayat yang pertama turun adalah ayat yang mengajak untuk belajar. Allah SWT. berfirman, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,” (QS. Al ‘Alaq: 1). Bahkan Allah SWT. Pernah bersumpah dengan sarana untuk memperoleh ilmu, yaitu pena. Dia berfirman, “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,” (QS. Al Qalam: 1). Di dalam hadist juga terdapat banyak nash yang menunjukkan kedudukan ilmu. Sampai-sampai menjadikan usaha untuk memperoleh ilmu sebagai jalan ke surga. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi). Bahkan pahala ilmu akan terus mengalir setelah pemiliknya wafat. Rasulullah saw bersabda, “Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya selain tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Adab Menuntut Ilmu
Dalam menuntut ilmu ada beberapa adab yang perlu diperhatikan. Sebelumnya kita ketahui terlebih dahulu tentang pentingnya adab tersebut. Burhanuddin az-Zarnuji berkata, “Orang-orang yang hadir di majlis ilmu itu banyak, namun mengapa yang keluar (berhasil) hanya sedikit? Hal itu, karena kebanyakan mereka tidak mengerjakan adab penuntut ilmu.” Ibnul Mubarak berkata, “Aku belajar ilmu selama dua puluh tahun, dan aku belajar adab ilmu selama tiga puluh tahun.” Ibnul Kharrath al-Isybiliy menyebutkan dari sebagian ahli ilmu, ia berkata, “Janganlah meremehkan adab, karena barangsiapa yang meremehkan adab, maka ia akan meremehkan sunah-sunah, dan barangsiapa yang meremehkan sunah-sunah, maka ia akan meremehkan yang wajib-wajib.”
Urgensi Adab Penuntut Ilmu
1. Adab dalam menuntut ilmu adalah sebab yang menolong mendapatkan ilmu
Abu Zakariya An Anbari rahimahullah mengatakan: “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh” (Adabul Imla’ wal Istimla’ [2], dinukil dari Min Washaya Al Ulama li Thalabatil Ilmi [10]).
Yusuf bin Al Husain rahimahullah mengatakan: “Dengan adab, engkau akan memahami ilmu” (Iqtidhaul Ilmi Al ‘Amal [31], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [17]).
Belajar adab sangat penting bagi orang yang mau menuntut ilmu. Oleh karena itulah Imam Malik rahimahullah mengatakan: “Belajarlah adab sebelum belajar ilmu” (Hilyatul Auliya [6/330], dinukil dari Min Washaya Al Ulama li Thalabatil Ilmi [17])
2. Adab dalam menuntut ilmu adalah sebab yang menolong berkahnya ilmu
Dengan adab dalam menuntut ilmu, maka ilmu menjadi berkah, ilmu terus bertambah dan mendatangkan manfaat. Imam Al Ajurri rahimahullah setelah menjelaskan beberapa adab penuntut ilmu beliau mengatakan: “(Hendaknya amalkan semua adab ini) hingga Allah menambahkan kepadanya pemahaman tentang agamanya” (Akhlaqul Ulama [45], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [12]).
3. Adab merupakan ilmu dan amal
Adab dalam menuntut ilmu merupakan bagian dari ilmu, karena bersumber dari dalil-dalil. Dan para ulama juga membuat kitab-kitab dan bab tersendiri tentang adab menuntut ilmu. Adab dalam menuntut ilmu juga sesuatu yang mesti diamalkan, tidak hanya diilmui. Sehingga perkara ini mencakup ilmu dan amal.
4. Adab terhadap ilmu merupakan adab kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sebagaimana dalil-dalil tentang memuliakan ilmu dan ulama yang telah disebutkan di atas.
5. Adab yang baik merupakan tanda diterimanya amalan
Seorang yang beradab ketika menuntut ilmu, bisa jadi ini merupakan tanda amalan ia menuntut ilmu diterima oleh Allah dan mendapatkan keberkahan. Sebagian ulama mengatakan “Adab dalam amalan merupakan tanda diterimanya amalan.”
Adab Menuntut Ilmu
Mengikhlaskan niat
Dalam menuntut ilmu, hal pertama dan paling utama yang harus dilakukan adalah menjaga niat ikhlas karena Allah Ta’ala. Seseorang tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat jika ia tidak ikhlas karena Allah. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali agar beribadah hanya kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah:5)
Berdoa kepada Allah memohon ilmu yang bermanfaat.
Hendaknya setiap penuntut ilmu senantiasa memohon kpd Allaah agar diberikan ilmu yang bermanfaat, pertolongan dlm proses mencari ilmu, serta selalu merasa butuh kepadaNya.
Rasulallah saw menganjurkan kita untuk selalu memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan berlindung kepadaNya dari ilmu yang tidak bermanfaat, karena banyak kaum Muslimin yang justru mempelajari ilmu yang tidak bermanfaat baik utk dunianya apalagi untuk akhiratnya.
Bersungguh-sungguh
Dalam menuntut ilmu diperlukan kesungguhan dan motivasi yang kuat. Diawali dari rasa butuh dan haus akan ilmu. Tidak layak para penuntut ilmu bermalas-malasan dalam mencarinya. Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dengan izin Allah apabila kita bersungguh-sungguh dalam menuntutnya.
Rasulullah saw bersabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang: yaitu (1) orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi).
Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan selalu menjaga taqwa kepada Allah Swt.
Seseorang terhalang dari ilmu yang bermanfaat disebabkan banyak melakukan dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat dapat menjadi penyebab: terhalangnya pelaku dari ilmu yang bermanfaat, dapat mematikan hati, merusak kehidupan dan mendatangkan siksa Allah Ta’ala.
Tidak boleh sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu
Sombong dan malu menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu masih ada dalam dirinya. Imam Mujahid mengatakan, “Dua orang yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq).
Menyimak/mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan guru
Allah Ta’ala berfirman, “… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar: 17-18)
Diam ketika pelajaran disampaikan
Ketika belajar dan mengkaji ilmu tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat, tanpa ada keperluan, dan tidak ada hubungannya dengan ilmu yang disampaikan, juga tidak boleh ngobrol.
Allah Ta’ala berfirman, “dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204)
Berusaha memahami ilmu
Ada beberapa kiat dalam memahami pelajaran, antara lain; mencari tempat duduk yang tepat, memerhatikan penjelasan guru, bersungguh-sungguh untuk mengikat ilmu dengan mencatat, mengulang pelajaran setelah selesai, dan bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
Menghafalkan ilmu
Rasulullah saw bersabda, “Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” (HR. At-Tirmidzi).
Dalam hadits tersebut Nabi saw berdoa kepada Allah Ta’ala agar Dia memberikan cahaya pada wajah orang-orang yang mendengar, memahami, menghafal, dan mengamalkan sabda beliau saw. Maka kita pun diperintahkan untuk menghafal pelajaran-pelajaran yang bersumber dari Al-Quran dan hadits-hadits Nabisaw.
Mengikat ilmu dengan tulisan
Ketika belajar, seorang penuntut ilmu harus mencatat pelajaran, poin-poin penting. Agar ilmu yang disampaikannya tidak hilang dan terus tertancap dalam ingatannya setiap kali ia mengulangi pelajarannya. Rasulullah saw bersabda, “Ikatlah ilmu dengan tulisan” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr)
Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
Menuntut ilmu syar’i bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai pengantar kepada tujuan yang agung, yaitu meningkatkan rasa takut kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, meningkatkan taqwa kepada-Nya, dan mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut. Dengan demikian, barang siapa saja yang menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, niscaya ia tidak akan mendapatkan keberkahan ilmu, kemuliaan, dan ganjaran pahalanya yang besar.
Nabi saw bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani).
Berusaha mendakwahkan ilmu
Objek dakwah yang paling utama adalah keluarga dan kerabat kita, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahriim: 6).
Di sisi lain, untuk para pengajar, Rasulllah saw berwasiat, bahwa para pengajar diperintahkan berbuat baik kepada orang-orang yang belajar kepadanya. Beliau saw bersabda, “Akan datang kepadamu orang-orang yang mencari ilmu, maka apabila kamu melihat mereka, ucapkanlah kepada mereka, “Selamat datang kepada wasiat Rasulullah saw”, dan berilah fatwa kepada mereka.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Sa’id, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3651).
Ilmu juga merupakan jalan bagi seorang muslim untuk mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.
Oleh karena itu, semestinya ahli lmu adalah orang yang paling takut kepada Allah (lihat surat Fathir: 28). "Sesungguhnya yang paling takut kpd Allaah diantara hamba-hanambaNya, hanyalah orang-orang berilmu"
Demikian hal-hal yang berkaitan dengan adab menuntut ilmu. Semoga bermanfaat bagi keluarga besar SDIT Luqman Al Hakim Sleman. Semoga Allah meridhoi kita dalam menuntut ilmu dan memberi kemudahan serta keberkahan. Aamiin. Wallahu a’lam bish showab.
Referensi:
Adab dan akhlaq penuntut Ilmu,
Karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas